DODOL...Kue Silaturrahim


Kue Silaturrahim

Dodol merupakan makanan yang paling banyak mengandung tata cara dalam proses pembuatannya. Dodol dikenal juga sebagai kue kolektif. Artinya tidak dapat dikerjakan hanya oleh dua tiga orang saja. Sejak berniat membuat dodol, maka sejak itu pula biasanya orang yang ingin membuat dodol sudahnyambat, yaitu melakukan pendekatan kepada tetangga sekitar agar bersedia mebantu. Itulah sebabnya, dodol juga dikenal sebagai kue silaturahim.



Proses pembuatan dodol memakan waktu cukup lama, dua hari dua malam. Pekerjaan pertama adalah belanja membeli bahan mentah dodol. Selanjutnmyamencari tukang ngaduk dan meminjam kawa atau wajan berukuran besar. Dulu kawa berukuran besar yang mampu menampung adonan dodol 25 kilogram hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu.
Sampai hari H, dilakukan ritual ngukup atau slametan memohon izin dan permohonan kepada penguasa alam semesta Allah SWT agar dodol yang dibuat mendapat keberkahan. Di atas tumang atau tungku (tungku biasanya terbuat dari pangkal pohon pisang) ditancapkan sate berbahan cabe, bawang, dan terasi. Pada jaman dahulu ritual ini ditujukan kepada Dewi Sri, dewi kemakmuran dan keseuburan.

Barulah kemudian kativitas menumbuk beras, memarut kelapa untuk santan, membuat minyak kelapa, memasak gula merah, dan membuat adonan dikerjakan bersama-sama. Waktu menumbuk beras biasanya dimulai ampir siang (dini hari) berbarengan dengan waktu sahur. Keluarga yang ngadukdodol dapat diketahui dari bunyi tumbukan beras. Karena saat menumbuk beras merupakan waktu yang relatif sepi, maka bunyi alu beradu dengan lesung akan menciptakan suara amat ganjil. Dari bunyi itu orang tahu bahwa keluarga si fulan sedang membuat dodol.
Seorang yang memarut kelapa disarankan bukan perempuan yang sedang haid. Karena kalau demikian, hasil santannya akan hitam. Atau seseorang yang bertugas membuat minyak kelapa, haruslah orang yang sabar, bersih dan disiplin. Jika tak begitu, minyak kelapa tak akan penah jadi alias gagal total, hanya menjadi blendo, seberapa banyak pun santan kelapa yang dimasaknya.
Tidak semua orang – laki-laki atau perempuan – mahir membuat adonan dodol. Seorang ahli membuat dodol instingnya sangat kuat disamping memang pengalaman dan jam terbangnya cukup tinggi. Perbandingan antara jumlah beras, kelapa, gula, dan sebagainya benar-benar telah ditekuni puluhan tahun meski ia tak mencatatnya. Semuanya hanya disimpan dalam ingatannya. Lagi pula membuat dodol dari beras ketan akan lain cara penanganannya dibandingkan dengan beras biasa. Selain itu ia pun mengerti jampe-jampepengusir makhluk halus. Kegiatan sejak nampihin beras,  menurunkan adonan ke kawa sampai menjadi setengah masak atau koleh masih ditangani oleh kaum perempuan. Barulah setelah itu pekerjaan dilanjutkan oleh kaum laki-laki sampai dodol matang, diangkat, dan dimasukkan ke dalam tenong (wadah bundar berdiameter 20-25 cm, tinggi 15 cm terbuat dari anyaman bambu).

Tukang ngaduk dodol adalah laki-laki yang memiliki fisik kuat, sebab membolik-balik dodol yang menggunakan gelo (pengaduk dodol) di kawa memerlukan tenaga yang besar.  Tukang ngaduk adalah orang yang mengerti jenis arang. Arang yang bagus biasanya dari kayu rambutan. Sebab bila arang yang digunakan mengeluarkan asap, maka dodol yang dihasilkan berbau sangit dan rasanya bercampur asap. Ia pun mengerti berapa tingkat kepanasan bara arang di bawah kawa. Jika tingkat kepanasan bara tidak konstan, artinya terlalu panas atau kurang panas, atau tidak rata antara sisi kanan dan sisi kiri, dodol menjadi bantet dan warnanya hitam gosong mengeras bagai batu. Untuk kemahirannya, tukang ngaduk memperoleh bayaran yang lumayan.
Kue lain yang juga menjadi unggulan lebaran adalah tape uli, wajik, geplak bakar, dan rengkambang. Bersama dodol, kue-kue itu termasuk kelompok kue tahan lama yang pengerjaannya pun membutuhkan keahlian paripurna. Inilah kue antaran silaturahim. Kue-kue lain pastilah diproduksi juga dan umumnya kue-kue kering, seperti adepite, kembang goyang, akar kelapa, tenteng jahe, kue satu, biji ketapang, telor gabus, dan sebagainya. Kue-kue ini biasanya menjadi hidangan bagi tetamu yang datang berlebaran.

Pada hari lebaran peran dodol sebagai kue silaturrahim menjadi sangat menojol. Memang ada kue lain sebagai pelengkap, namun dodol tetap primadonanya. Kedudukan dodol menjadi unik karena tanpa disadari dodol yang diantar oleh keluarga A kepada keluarga lain akan berputar-putar sehingga  pada gilirannya sang dodol kembali kepada keluarga A. Begitulah dodol, kue silaturrahim dan mengikat masyarakat menjadi erat dalam persaudaraan yang kuat.
Share on Google Plus

About Cinta Betawi

Ikut melestarikan kebudayaan indonesia
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment