Tari Topeng BEKASI

Sebagian kecil masyarakat di daerah pedesaan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat merupakan masyarakat seni. Salah satu seni yang cukup populer dalam masyarakat tersebut adalah tari topeng. Tari topeng mempertontonkan seorang gadis yang menari menggunakan topeng dan juga terkadang menanggalkan topengnya. Tari yang dilakukan secara berkelompok ini diiringi dengan alat musik tradisional yang dimainkan oleh para lelaki.




Salah satu grup tari topeng yang masih bertahan tersebut adalah grup tari yang dipimpin oleh Bapak Mansyur. Selain sebagai seorang pemimpin grup tari, dia juga menjadi seorang tukang kayu. Beberapa seniman yang tergabung dalam grup tarinya tersebut, antara lain: Tuti (penari yang masih duduk di bangku SMP), Limin (pelawak cacat yang mengiringi pementasan tari topeng), Namid (seorang lelaki penabuh rebab yang sudah berumur), dan sebagainya. Menurut mereka pekerjaan sebagai seniman bukan dijadikan pekerjaan utama. Mereka bergelut dalam kesenian bukan karena penghasilan yang didapat. Namun, lebih dari itu; mereka telah mencintai kesenian warisan nenek moyang mereka. Seni sudah menjadi jiwa mereka.
Dalam tulisan ini, saya hanya akan menyoroti sosok pemimpin grup tari tersebut, yaitu Pak Mansyur. Pak Mansyur adalah seorang sesepuh yang begitu teguh memegang adat istiadat leluhurnya. Dia selalu mengadakan upacara kecil atau ritual sebelum mengadakan pementasan.
Upacara ini dilakukan dengan menggunakan beberapa sesaji dan membakar kemenyan serta benda-benda jimat. Ritual ini ditujukan untuk nylameti alat-alat musik yang akan ditabuh agar pementasan yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan.
Menurut Pak Mansyur, dia tidak dapat meninggalkan ritual ini karena alasan tertentu. Padahal lingkungan di sekelilingnya sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat yang menuju modern. Mereka, termasuk Pak Mansyur, dapat mengakses informasi dari luar. Namun, Pak Masyur tak mau ambil resiko sehingga walau bagaimana pun ia tidak akan meninggalkan upacara tersebut. Menurutnya alat-alat yang terbuat dari logam biasanya “berisi” mahluk lain. Mahluk si penunggu akan marah jika merasa terganggu sehingga sebagai imbalan manusia harus memberikan sesaji kepadanya.
Realitas mengenai Pak Mansyur di atas menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih mempercayai tahayul dan mitos-mitos yang mengikutinya. Mereka menganggap bahwa jika kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun tersebut ditinggalkan, sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi. Biasanya musibah yang tak terduga akan menimpa orang yang mengingkari kebiasaan tersebut atau pun orang-orang terdekat di sekelilingnya, bisa anak, istri, suami, atau anggota keluarga lainnya. Hal tersebut telah mengakar di hati sebagian masyarakat Indonesia.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa kejadian-kejadian aneh atau pun yang biasa saja terjadi, masyarakat kita akan menghubung-hubungkan kejadian tesebut sebagai akibat “kualat” kepada tradisi leluhur. Hal ini semakin mempertebal keimanan mereka terhadap kepercayaan-kepercayaan seperti itu. Apalagi orang yang memang sudah sejak kecil dididik dan bergaul dalam lingkungan dengan kepercayaan seperti ini, sampai dewasa ia sulit untuk meninggalkan kebiasaan tersebut dan bahkan, mungkin diwariskan kepada anak-anaknya. Contohnya adalah kebiasaan menyediakan sesaji berupakembang telon (bunga tiga macam) pada hari Kamis Kliwon atau hari tertentu akan terus dilestarikan dan dipaksa dilaksanakan oleh orang tua kepada anaknya. Dari kecil si orang tua akan menanamkan keyakinan bahwa hal itu tidak boleh ditinggalkan.
Salah satu ciri masyarakat lama adalah bahwa mereka sangat ketat dan tidak mudah untuk menerima pengaruh dari luar. Mereka akan sangat teguh memegang adat yang selama ini mereka laksanakan. Dari sini kita dapat melihat bahwa Pak Mansyur tidak akan terpengaruh oleh apapun untuk meninggalkan kebiasaannya. Selain karena ia telah menganggap hal itu sebagai warisan leluhur, dengan kata lain meninggalkannya berarti melecehkan leluhur juga kerena ia yakin akan akibat yang ditimbulkan jika ia meninggalkannya.
Hal ini bertolak belakang dengan masyarakat baru yang selalu terbuka terhadap pengaruh dari luar. Masyarakat baru akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurut mereka sia-sia dan tidak sesuai lagi dengan keadaan dan menggantinya dengan kegiatan yang menurut mereka lebih bermanfaat.
Kondisi di atas menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat Indonesia masih dalam tahap percampuran. Ada sebagian masyarakat yang masih menggunakan pola pikir masyarakat lama dan ada juga yang sudah menggunakan pola pikir masyarakat baru. Keduanya memiliki sisi positif dan negatif yang perlu kita renungkan agar tercipta sebuah masyarakat yang maju.
Share on Google Plus

About Cinta Betawi

Ikut melestarikan kebudayaan indonesia
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment