Kesenian

Permainan

Popular News [ View all Popular News ]

Latest Updates

JENGKOL

1 komentar
Jengkol bukan barang yang asing buat kuping kita. Buah dengan aroma yang sebagian orang anti buat memakannya, justru jadi makanan favorit buat banyak orang laen, termasuk saya tentu. Buat saya pribadi, asalkan jengkol tsb bener2 tuanya sempurna, mao disemur, gulai atau digoreng...tentu jadi santapan utama yg saya pilih (meski banyak lauk pauk lainnya).
Masalahnya adalah; biarpun kita doyan banget ama jengkol, sering kita kudu mikir dua kali buat makannya karna berbagai alasan seperti, bau mulut, bingung kalu mao pipis (terutama kalu kite kerja kantoran) ampe resiko "kejengkolan" kalu kebanyakan makannya. Berikut adalah tips buat yang suka makan jengkol:

1. Disamping sikat gigi setelah makan jengkol, biasanya orang juga merokok utk menyamarkan baunya. Cobalah juga makan buah mentimun (ketimun) setelah anda menyantap jengkol.

2. Menghindari aromanya saat pipis? Gampang. Makan aja "coklat"  (merek bebas lho spt silverqueen, delfi, van houtten atau coklat bergambar "ayam jago" sekalipun) setelah beberapa saat menikmati jengkol. Ada juga yang meminum satu atau dua biji vitamin B complex. Yang paling murah adalah Kunyah satu sampe dua butir "Kapolaga" lalu telan. Ketiganya pernah saya konsumsi dan Alhamdulillah, saya ga pernah khawatir mengganggu orang lain saat pipis, meski di kantor.
3. Bila kerasa kurang enak/sakit saat pipis akibat terlalu banyak makan jengkol (biasanya ini gejala awal kejengkolan). Cobalah minum "water soda" sebanyak mungkin. atau boleh juga makan "singkong mentah" sebanyak-banyaknya. Kalu nggak sembuh juga, dokter adalah alternatif terakhir tentu.

Jadi jika ragu makan jengkol karna khawatir baunya, kenapa nggak coba cara diatas? Selamat mencoba...!!

SI PITUNG

0 komentar

SI PITUNG 

Si Pitung selama delapan tahun (1886 – 1894) telah meresahkan Batavia. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera Snouck Hurgronje mengecam habis-habisan kepala polisi Batavia Schout Hijne yang tak mampu menangkap Pitung. Hurgronje menganggap amat keterlaluan kalau seorang Eropa seperti Hijne sampai harus berdukun untuk dapat menangkap Pitung. Hurgronje menganggap kepala polisi ini sangat tidak terpelajar yang tak mampu memperhitungkan kehadiran alat transportasi baru, kereta api, yang dengannya Pitung dapat hilir mudik. Lebih menggusarkan lagi Pitung dapat meloloskan diri dari penjara Meester Cornelis ketika tertangkap pada tahun 1891. Tidak hanya itu, di luar penjara Pitung masih sempat membunuh Demang Kebayoran, yang menjadi musuh petani-petani Kebayoran dan telah pula menjebloskan saudara misan Pitung, Ji’ih, ke penjara dan kemudian dihukum mati.

Margriet van Teel dalam laporan penelitiannya tahun 1984 sebagaimana disiarkan Bijdragen tahun penerbitan semasa mengungkapkan bahwa polisi Belanda pernah menggerebek rumah si Pitung di Rawa Belong, Jakarta Barat, dan ternyata di rumah itu yang ditemukan hanyalah beberapa keping uang benggolan senilai 2,5 sen yang tersimpan di bambu. Padahal selama delapan tahun Pitung melakukan aksi perampokan dengan sasaran saudagar yang dinilainya bersekutu dengan Belanda telah mengeruk uang dan emas permata yang tidak sedikit nilai dan jumlahnya.

Dalam menjalankan aksi perampokannya, Pitung tidak membangun komplotan melainkan berdua denga sepupunya Ji’ih yang kemudian dihukum mati. Setelah itu Pitung bekerja sendiri. Karena itulah sulit polisi mendapatkan informasi tentang Pitung.

Apa yang dikenal sebagai rumah si Pitung yang berlokasi di Marunda, Jakarta Utara, sesungguhnya rumah Haji Safiudin seorang bandar perdagangan ikan. Ada dua versi tentang perampokan di rumah Haji Safiudin. Versi pertama mengatakan Pitung benar-benar telah merampok Haji Safiudin. Versi kedua meragukan kalau Haji Safiudin sempat dirampok. Diperkirakan terjadi kesepakatan antara Safiudin dengan Pitung. Safiudin menyerahkan sejumlah uang. Penulis meyakini versi kedua dengan penjelasan di bawah nanti.

Mengangon kambing

Ibu kandung Pitung berasal dari Rawa Belong, Jakarta Barat, ayahnya berasal dari kampung Cikoneng, Tangerang. Diperkirakan Pitung lahir pada tahun 1866 di Tangerang. Sekitar usia delapan tahun Pitung merasakan kehidupan yang pahit. Kedua orang tuanya bercerai. Ibunya menolak dijadikan isteri tua. Pitung bersama ibunya kembali ke kampung Rawa Belong, sedangkan ayahnya menetap di Cikoneng, Tangerang, bersama istri mudanya dan tetap bekerja pada tuan Tanah Cikoneng. Kemudian hari ketika Pitung sudah menjadi buronan ia kerap berkunjung ke rumah Tuan Tanah Cikoneng.

Di Rawa Belong Pitung mengangon kambing milik kakeknya. Setelah berusia 14 tahun, Pitung dipercaya menjual kambing di pasar Kebayoran. Pada suatu hari saat kembali dari pasar menjual kambing, Pitung dirampok. Ia tak berani pulang takut dimarahi kakek dan ibunya. Pitung mengembara dengan dendam yang amat sangat terhadap kekerasan.

Dalam pengembaraannya itu sampailah ia di kampung Kemayoran, dan berkenalan dengan Guru Na’ipin. Seorang ahli tarekat yang pandai bermain silat. Guru Na’ipin adalah murid Guru Cit seorang mursyid, guru tarekat, dari kampung Pecenongan, Jakarta Pusat. Sekitar enam tahun Pitung berguru pada Na’ipin.

Na’ipin bersahabat dengan Mohammad Bakir, pengarang Betawi akhir abad XIX. Karya Mohammad Bakir tersimpan di sejumlah meseum terkemuka di dunia antara lain Petersburg, Rusia, London, dan negeri Belanda. Dari titik inilah Na’ipin membangun hubungan dengan jaringan Jembatan Lima, Jakarta Barat, yang ketika itu sudah dipimpin Bang Sa’irin. Di kampung inilah segala gagasan pemberontakan dan perlawanan terhadap Belanda di sepanjang abad XIX dan permulaan abad XX dirancang. Jaringan Jembatan Lima sebelumnya dipimpin Cing Sa’dullah, juga seorang pengarang Betawi.

Pitung tidak pernah menikmati hasil rampokannya. Ia tak pernah beristeri, karena buronan yang tidak menetap di suatu tempat. Ia juga bukan penjudi, atau pun pemabuk. Ia seorang penganut tarekat. Menurut Margriet van Teel, Pitung dapat menulis dalam aksara Melayu Arab. Margriet van Teel melaporkan bahwa tatkala di penjara Meester Cornelis, Jatinegara, Pitung sempat beberapa kali menyelundupkan surat yanag ditujukan pada pengurus mesjid Al Atiq kampung Melayu. Dalam surat itu Pitung menggunakan nama samaran Solihun, orang yang saleh.

Di kalangan tarekat tatkala itu berkembang keyakinan bahwa merampas harta musuh untuk kepentingan perjuangan adalah halal belaka. Ini disebut fa’ie. Pitung menjalankan tugas ini setelah tokoh-tokoh pemberontakan petani di Jakatrta dan sekitarnya kesulitan dana karena penyandang dana selama itu, pelukis Raden Saleh, telah disita kekayaannya pada tahun 1870 karena terlibat pemberontakan petani. Dan pada tahun 1880 Raden Saleh meninggal dunia di Bogor dalam keadaan miskin.

Seluruh hasil rampokan Pitung diserahkan untuk kepentingan perjuangan. Bukan dibagi-bagikan langsung kepada rakyat kecil sebagaimana selama ini didongengkan. Karena itulah Pitung amat sulit ditangkap karena jaringannya amat luas. Bahkan salah seorang calon korbannya, Haji Safiudin kampung Marunda, akhirnya menjadi mitranya. Pitung seringkali berkunjung ke rumah Haji Safiudin di Marunda yang kemudian terkenal sebagai rumah si Pitung.

Karena seringnya Pitung berkunjung ke Marunda, akhirnya tercium mata-mata Belanda. Route Pitung dilacak. Pitung selalunya muncul dari Pondok Kopi, Jakarta Timur, jika hendak ke Marunda. Pada suatu petang Schout Hijne dengan kekuatan satu regu pasukan polisi bersenjata lengkap menanti Pitung di Pondok Kopi. Tak ayal lagi begitu hari mulai gelap Pitung muncul. Ia dihujani peluru. Pitung rebah, tapi tak langsung tewas. Ia dibawa dengan mobil ambulans yang sudah disiapkan ke rumah sakit militer, kini RSPAD, di Jl Raya Senen, Jakarta Pusat.

Menurut laporan Margriet van Teel, sepanjang perjalanan Pitung terus menerus menyanyikan lagu Nina Bobo, sehingga ditegur Schout Hijne apa kiranya permintaan Pitung terakhir karena tampaknya ajal hendak menjemput. Pitung mengatakan ia minta dibelikan tuak, air nira, dengan es. Permintaannya dikabulkan. Segelas air nira sejuk diminumnya, belumlah kering gelas itu Pitung berpulang. Pitung mati muda dalam usia duapuluh delapan tahun. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.


Si Pitung

Si Pitung adalah seorang pemuda yang soleh dari Rawa Belong. Ia rajin belajar mengaji pada Haji Naipin. Selesai belajar mengaji ia pun dilatih silat. Setelah bertahun- tahun kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri makin meningkat.

Pada waktu itu Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke dan para Tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan ladang mereka dijaga oleh para centeng yang galak.

Dengan dibantu oleh teman-temannya si Rais dan Jii, Si Pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah Tauke dan Tuan tanah kaya. Hasil rampokannya dibagi-bagikan pada rakyat miskin. Di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras. Keluarga yang dibelit hutang rentenir diberikannya santunan. Dan anak yatim piatu dikiriminya bingkisan baju dan hadiah lainnya.

Kesuksesan si Pitung dan kawan-kawannya dikarenakan dua hal. Pertama, ia memiliki ilmu silat yang tinggi serta dikhabarkan tubuhnya kebal akan peluru. Kedua, orang-orang tidak mau menceritakan dimana si Pitung kini berada. Namun demikian orang kaya korban perampokan Si Pitung bersama kumpeni selalu berusaha membujuk orang-orang untuk membuka mulut.

Kumpeni juga menggunakan kekerasan untuk memaksa penduduk memberi keterangan. Pada suatu hari, kumpeni dan tuan-tuan tanah kaya berhasil mendapat informasi tentang keluarga si Pitung. Maka merekapun menyandera kedua orang tuanya dan si Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat akhirnya mereka mendapatkan informasi tentang dimana Si Pitung berada dan rahasia kekebalan tubuhnya.

Berbekal semua informasi itu, polisi kumpeni pun menyergap Si Pitung. Tentu saja Si Pitung dan kawan-kawannya melawan. Namun malangnya, informasi tentang rahasia kekebalan tubuh Si Pitung sudah terbuka. Ia dilempari telur-telur busuk dan ditembak. Ia pun tewas seketika.Meskipun demikian untuk Jakarta, Si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil.

RANCAG SI PITUNG
 Duduk di rume baca alQur’an Turun ke pekarangan maen pukulan

Batavia 1894

Empat pelor nembus di badan
Pondok Kopi tempat pengapesan
Tiga pelor waja satu emas beneran
Cuman kaja Pitung rebah doangan

Marunda Pulo tempat tujuan
Tapi dipegat kumpeni di jalanan
Schout Hijne punya pimpinan
Bawa pulisi bangsa selusinan

Pitung besar di Kebayuran
Lahir di Cikoneng Tangerang punya bilangan
Dari tahun 1896 punya hitungan
Dia sukanya maen di pesisiran

Marunda Pulo Kali Besar Bandengan
Pitung punya daerah rampokan
Duit keras dan permata emas-emasan
Dia jarah bersama Ji’ih bedua’an

Mak si Pitung ogah dimadu
Becere ama laki sudahlah kudu
Kampung Rawa Belong tempat dituju
Pitung pitik tumbuh bermain gundu

Kewajiban pokok mengangon kambing
Kalau gemuk jual di pasar zonder keliling
Nasib apes Pitung tuju keliling
Hasil jualan dirampas maling

Pitung takut pulang ke rumah
Pasti Mak sama Engkong pada marah
Kemayoran dituju dari Paal Merah
Ketemu Guru Na’ipin ahli tareqah

Guru Na’ipin murid Guru Cit Pecenongan
Langgar Gang Kingkit dia punya perguruan
Tarekat Betawi memang selalu berendengan
Sama maen pukulan dan kekebalan badan

Aturannya ini pegangan bela diri
Tak boleh digunakan buat jual aksi
Tapi Pitung amalkan fa’ie
Harta musuh halal buat urusan sabili

Itu jaman banyak pemberontakan petani
Tambun Ciomas Cilegon Condet Tana Tinggi
Petani tertindas perang sabil lawan kumpeni
Pitung ambil peran semacam bendahari

Hasil rampokan bukan dibagikan ke rakyat
Karena bukan jengkol bèwè atawa ikan sepat
Cuma ada satu jalan tolong rakyat melarat
Lawan Belanda dan kaki tangannya yang keparat

Satu kali Pitung tertangkap
Di bui Mester dia disekap
Mendengar Ji’ih dibunuh sebab diperangkap
Pitung loloskan diri dari penjara yang pengap

Demamg Kebayuran yang jadi cumi-cumi
Kepergok Pitung – berusaha lari
Pitung gak kasih jalan barang secenti
Demang mati – usus berarakan didodèt belati

Dung Indung Si Pitung mau tidur
Tidurnya lagi dipangkuan Emak

Pitung dalam perjalanan ke rumah sakit
Menyanyi terus-terusan
Nyanyian Mak menidurkan Pitung alit
Begitu kata Margriet van Teel ahli penelitian

Zegt Pitung – apa kowe minta yang pengabisan?
Schout Hijne bertanya di mobil ambulan
Tuak sama es Tuan
Goed – sebentar kita beli di jalan

Tuak sama es diminum pelan-pelan
Napas Pitung sudah sengal-sengalan
Gelas terjatuh tumpahkan sisa minuman
Pitung temui ajal di perjalanan

Pitung meninggal masih bujangan
Tanpa ratapan dan tangisan
Malah sesudahnya Hijne ketawa cekikikan
Ketika merayakan Pitung punya kematian

Tak jelas benar dimana Pitung dikuburkan
Kabarnya mayat dibelah empat potongan
Ditanam di Paal Tuju Depok dan Bandengan
Makanya dipotong sebab kumpeni kepikiran
Pitung hidup lagi en bangkit dari kuburan

Rancag Si Pitung sampe di sini
Pemberontak tunggal di negeri Betawi
Delapan tahun dia repotkan kumpeni
Sampai Snouck Hurgronye seorang ahli
Melapor Baginda Ratu ejek-ejek polisi
Tak bisa tangkap Pitung – main dukun orang Hindi
Minta pertolongan setan dan peri
Meski pun banyak kontroversi
Pitung jago dan pahlawan Betawi
Beda ama Jampang perampas orang punya isteri
Ketika Jampang digantung orang tak perduli

Mari angkat tangan sepuluh jari
Panjatkan do’a pada Ilahi Rabbi
Moga-moga Pitung diampunkan
Atas segala dosa dan perbuatan
Dan dimuliakan dia punya niatan
Bikin pembalasan atas penindasan

Ketan Uli Di Hari Raya

0 komentar
Dalam kehidupan masyarakat Betawi dikenal berbagai macam makanan dan minuman khas. Salah satunya ketan uli. Namun, makanan yang tersaji saat perayaan keagamaan seperti Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha ini, ternyata memiliki makna tersendiri.
Ya, ketan uli memang merupakan satu dari sekian banyak panganan khas Betawi yang masih terlestari. Pembuatan ketan uli memiliki makna mendalam dalam kebudayaan masyarakat Betawi, yaitu sebagai simbol kekeluargaan atau silaturahmi yang terjalin antar keluarga.
Hal ini ditunjukan dengan pembagian tugas antara wanita dan pria dalam proses pembuatannya. Biasanya ketan uli dibuat mengiringi pemotongan kerbau andilan yang kerap dilakukan masyarakat Betawi tempo dulu, sebagai tradisi menjelang Lebaran. Selain ketan uli, masih ada beberapa makanan pengiring lainnya seperti kue geplak, wajik, kue lapis pepe dan dodol yang keberadaannya mulai hilang.
Mungkin tak banyak yang tahu, ternyata pembuatan ketan uli mengandung sebuah arti. “Biasanya kaum pria yang menumbuk ketan, sedangkan para wanita kebagian tugas memasak atau membuat ketan ulinya. Pembagian tugas itu ada maknanya, termasuk sebagai simbol kebersamaan bagi masyarakat Betawi,” kata Alim Molana, salah seorang tokoh masyarakat Warungbuncit, Jakarta Selatan, kepada beritajakarta.com, Jumat (27/11).
Proses pembuatan ketan uli, menurut Alim, gampang-gampang susah. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan bahan, dan tempat penyimpanannya. “Tapi banyak yang mempercayai kalau pembuatan ketan uli ini mengandung mistis. Sebab, jika melanggar pantangan, hasilnya pasti gagal total,” jelas Alim.
Bahan pembuatan ketan Uli adalah tape ketan, ragi tape, beras ketan putih, kelapa parut segar dan garam. Proses pembuatannya pun sedikit ribet. Awalnya, beras ketan dicuci hingga bersih, kemudian direndam dalam air bersih selama 2 sampai 6 jam, dan dimasak hingga matang. Setelah itu, pindahkan ketan selagi panas dalam wadah dan taburi kelapa, garam, aduk hingga rata.
Proses lain yang harus dilakukan yaitu, menumbuk beras ketan selagi panas hingga ketan terlihat agak halus. Jika menginginkan ketan uli yang lembut, lanjutkan penumbukannya hingga sangat halus. Sementara itu, siapkan bungkus berupa daun pisang, kemudian dibungkus dan dipotong beberapa bagian. Biarkan ketan uli itu hingga dingin dan siap disantap. Diakui Alim, ketan uli disajikan sebagai simbol kesederhanaan. “Tak hanya kesederhanaan, makna religi pun begitu kental dalam setiap hidangan atau sajian ketan uli,” ungkap Alim.
Selain di Jakarta, ketan Uli juga banyak digunakan sebagai pelengkap prosesi sakral pada tradisi Jawa di Yogjakarta dan Surakarta. Bahkan, setiap perayaan Maulid Nabi atau tradisi 1 Muharam yang menampilkan gerebek gulungan, ketan uli selalu dihadirkan bersama tapai ketan, madu mongso, jajanan pasar lainnya, serta hasil bumi yang mengibaratkan kekayaan alam sebagai anugerah yang maha kuasa.

Sejarah Singkat Gong Sibolong

0 komentar
Sebagian besar warga Depok pasti mengetahui sebuah tugu yang berada di daerah tanah baru, Depok. Tugu itu terletak pada sebuah persimpangan jalan, sehingga jangan heran ketika tugu tersebut menjadi sebuah patokan untuk menunjukan wilayah Tanah Baru.


Namun, sedikit orang yang mengetahui apa sebenarnya Tugu tersebut, Tugu tersebut merupakan Tugu Gong Si Bolong. Dimana, terdapat replika Gong si Bolong diatas tugu tersebut. Gong si Bolong pun sekarang menjadi nama dari kelompok kesenian khas kota Depok. Tak tanggung tanggung kelompok kesenian ini pernah memenangkan juara 1 dalam pagelaran kesenian Jawa Barat Travel (img:318508954847479)
Ditemukannya Gong si Bolong
Sejarah Gong si Bolong ini pun tergolong unik, karena juga merupakan sebuah cerita/legenda dari masyarakat Depok. Monitor Depok, sebuah harian lokal kota Depok,pada tanggal 10 Juli 2008 pernah menuliskan artikel terkait sejarah munculnya Gong si Bolong ini.
Kisah ini di mulai abad ke 16, saat itu Kampung Tanah Baru masih lebih banyak hutan dan rawa, dimana penduduknya sangat sedikit dan umumnya bertani. Di Kampung Tanah Baru tersebut kerap kali terdengar bunyi-bunyian suara Gamelan di malam hari, namun ketIka sumber dari suara tersebut dicari tak satu pun orang yang dapat menemukannya.
Di tahun 1648, Seorang warga bernama Pak Jimin menemukan sumber bunyi tersebut, yang ternyata memang seperangkat gamelan. Namun ternyata tidak ada orang yang memainkannya. Lokasi penemuannya adalah di sekitar curug Agung di aliran sungai krukut. Pak jimin pun hanya sanggup membawa sebuah gong yang bolong di tempat pukulnya, gendang, dan bende. Ketika Pak Jimin kembali lagi bersama beberapa tetangganya untuk menggambil sisa perangkat gamelan itu, ternyata perangkat gamelan lainnya sudah raib. Ketiga alat music tersebut akhirnya diberi nama Si Gledek, karena bunyinya yang nyaring.
Menjadi Kesenian Khas Depok
Gong si Bolong, baru dilengkapi sehingga menjadi satu set gamelan yang bisa dimainkan ketika berada di tangan Pak Tua Galung (Pak Jerah). Pak jerah melengkapinya dengan satu set gendang, dua set saron, satu set kromong, satu set kedemung, satu set kenong, terompet, bende serta gong besar. Ini pula yang menandai terbentuknya Kelompok Kesenian Gong si Bolong.
Kelompok Kesenian ini ketika tampil menampilkan serangkaian pertunjukan antara lain ajeng, ngayuban, dan ngbing. Ajeng, adalah permainan gamelan khas Depok, yang dentumannya mirip gamelan Bali. Nayuban, merupakan penampilan tarian Khas asal tanah Baru, yang merupakan cikal bakal tarian doger karawang, dan jaipongan.
Berikut ini adalah silsilah kesenian Gong si Bolong yang bersumber dari H Holil (cucu dari H damong Putra dari Pak Tua Jimin tahun 1913)
1. Pak Tua Jimin (ciganjur)
2. Pak Anim (curug)
3. Pak Tua Galung (tanah baru)
4. Pak Saning (tanah baru)
5. Nyai Asem (tanah baru)
6. Pak Bagol (tanah baru)
7. Pak Buang Jayadi (tanah baru)
8. Pak Kamsa S atmaja (tanah baru)
9. Pak Buang Jayadii (tanah baru)


Kesenian Gong si Bolong, telah menjadi kesenian khas Depok. Terlepas benar atau tidak legenda penemuannya. Kesenian ini Patut lah dilestarikan sebagai salah satu kesenian khas dan budaya Depok.

Kampung Betawi Ora

0 komentar
Sebelumnya, Kampung Betawi Ora memohon maaf bila di sini ada tambahan tulisan yang khusus mengenai Bekasi. Ini karena sesuai dengan nama kampungnya yaitu Kampung Betawi Ora yang kerap diidentikkan oleh Orang Betawi Jakarta sebagai Bekasi dan sekitarnya di luar Jakarta. Jadi harap maklum bila Kampung Betawi Ora mencoba memperkenalkan nama kampungnya sendiri.

Nama Bekasi menurut Prof. Dr. Poerbatjaraka berasal dari kata Chandra atau Sasih artinyaBulan dan Bhaga artinya Bahagian. Semula dari Chandra Bhaga melalui kata Bhagasasi menjadiBekasi. Nama ini merupakan salah satu kota penting pada zaman kerajaan Tarumanagara. Hal ini berdasarkan penemuan-penemuan benda-benda sejarah di kabupaten Bekasi, berupa :
  • Alat pemukul kulit kayu di Cariu (Cibarusa).
  • Periuk di Buni Wates.
  • Benda sejarah lainnya di Buni Babelan seperti Kapak Batu, Tengkorak, Gelang, Cincin, Periuk.
  • Prasasti Tugu yang ditemukan di Cilincing.
Daerah Bekasi telah memegang peranan kebudayaan sebelum lahirnya Pajajaran, dan secara geografis Bekasi masuk daerah kerajaan Tarumanagara pada abad ke-15.
Abad ke-9 dan 10 lahirlah kerajaan Pajajaran sebagai kelanjutan dari kerajaan Galuh dengan ibukotanya Pakuan Pajajaran Bogor dan kota-kota pelabuhan penting tercatat pula lahir di zaman ini ialah Karangantu (Banten), Tangerang, Kelapa, Bekasi, Karawang, Cilamaya dan Cirebon.
Bekasi pada waktu itu bukan saja salah satu kota pelabuhan penting kerajaan Pajajaran, bahkan sejak zaman kerajaan Galuh, Bekasi memegang peranan di dalam jalan-jalan darat sampai zamannya kerajaan Pajajaran antara kota-kota Pakuan Pajajaran, Bogor – Cileungsi (Cibarusa) – Warung Gede – Tanjung Pura – Karawang – Cikao – Purwakarta – Sagara Herang – Sumedang – Tomo – Raja Galuh – Kawali – Bojong Galuh (Ciamis).
Jalur jalan darat ini dahulu merupakan jalan raya penting pada zaman kerajaan Galuh sampai kerajaan Pajajaran (Bogor). Setelah kerajaan Pajajaran Runtuh oleh serangan tentara Maulana Yusuf kerajaan Islam Banten, daerah Pajajaran ada di bawah pengaruh agama islam. Namun karena pengaruh pemerintahan kurang terbina sepenuhnya, maka lahirlah kerajaan Sumedang Larang sebagai pewaris yang dekat keturunan kerajaan Pakuan Pajajaran.
Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang) meliputi penguasaan daerah kerajaan kecil (kabupaten) Sumedang, Sukakerta, Limbangan, Galuh, Bandung, Cianjur dan Karawang termasuk Bekasi. Di saat itu Karawang meliputi daerah penguasaan Bekasi, Sindang Kasih (Purwakarta), Sagara Herang (Subang) sekarang karesidenan Purwakarta. Di luar daerah tersebut di wilayah Jawa Barat di bawah kekuasaan langsung kerajaan Banten dan Cirebon.
Setelah Jayakarta direbut oleh VOC dan berdiri Batavia sejak tanggal 30 Mei 1619 M Sumedang Larang sudah bergabung dengan kerajaan Mataram, daerah Karawang dan Bekasi inilah menjadi daerah penting dalam pertemuan-pertemuan melawan pasukan kerajaan Mataram yang dibantu oleh pasukan-pasukan kerajaan kecil dari daerah Jawa Barat melawan Belanda. Di saat itulah daerah Bekasi dan Karawang terkenal dijadikan daerah persediaan bahan makanan untuk peperangan melawan Belanda dengan dibukanya hutan dan rawa-rawa untuk persawahan di samping pusat pengumpulan pasukan dalam melawan tentara VOC yang menguasai Sunda Kelapa dan Jayakarta. Pada akhirnya, Bekasi ada dalam kekuasaan Belanda menjadi salah satu daerah Meeser Comelis (Jatinegara) dan setelah jaman Jepang berkuasa, Bekasi menjadi wilayah kabupaten terlepas dari Kabupaten Karawang yang berkedudukan ibukotanya di Purwakarta.
Namun perlu diketahui pula Jatinegara atau Kabupaten Jatinegara berusaha menjadi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Jatinegara berubah menjadi Jatinegara yang meliputi Gun Cikarang, Gun Bekasi, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.
Pada masa revolusi fisik ibukota kabupaten Jatinegara berpindah-pindah dari Bekasi ke Tambun, Cikarang dan terakhir di Kedung Gede sebagai daerah perjuangan (Front Perjuangan). Pada tanggal 21 Juli 1947 tentara Belanda menyerang daerah RI sehingga pemerintah Kabupaten Jatinegara turut bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 17 Februari 1960 rakyat Bekasi kurang lebih 40.000 orang mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk mengganti nama Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.

Sponsored